Pagi in seperti biasanya, setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah, saya mengantarkan istri saya ke kantornya. Kemudian seperti biaas pula saya "Nyabu" alias Nyarap Bubur langganan saya disamping kantor istri saya. Sedang asik makan, datang di hadapan saya bapak-bapak setengan baya, kemudian terlibat asyik ngobrol dengan si tukang bubur langganan saya. Cita rasa bubur nya saya suka, enak dan pelayanan nya kepada pelanggan sangat friendly, sempat terfikir juga untuk kerjasama, tapi nantilah, masih banyak yang harus dikerjakan.
Si bapak di hadapan saya tadi ternyata bernama Bapak Asril, dari cara bicaranya dia berasal dari suku Padang. Dan benar saja, setelah asyik ngobrol dengan si bapak tadi dia pun menyodorkan Kartu Nama, Judul kartu namanya Rumah Makan Baringin Jaya. "Bapak bisnis Rumah Makan pak" sahut saya. "Iya pak, biasalah orang padang, rata-rata bisa masak". Beliau berasalah dari daerah Pariaman. "Istri saya guru, anak saya dua, satu di Cairo - Mesir, dan yang satu di Jakarta, sedang mencari kerja, sekarang susah ya pak cari kerja" sahut dia. "Kemarin sempat kerja, tapi di perusahaan outsourcing, jadi gajinya di potong dulu sama perusahaan outsourcing" Tambahnya..
Hmmm..., saya pun mendengarkan nya dengan nada setengah heran, rupanya bapak ini sudah mempunyai dua rumah makan padang, "Kenapa nggak di ajak membesarkan bisanis saja pak" Sahut saya. "Ah.. kalo bisnis kan bisa kapan saja, mau mulai sekarang yaaa. bisa langsung jalan, saya maunya dia mengembangkan ilmunya dulu, yang dia dapat dari sekolah". "Kan sayang sudah mahal-mahal untuk biaya sekolah"
Ingin rasanya dalam berkata bahwa menjadi "pedagang-pengusaha-saudagar" tidak kalah mulia dengan pekerja kantoran yang segala sesuatu nya mempunyai "limit", baik limit penghasilan ataupun limit waktu, tapi mengingat bapak ini sudah banyak makan asam-garam kehidupan, nggak enak rasanya berbicara seperti itu, kesannya agak menggurui, suatu hal yang tidak ingin saya lakukan, "mendengar jauh lebih baik" dalam hati saya.
Dari obrolan tadi, saya menyimpulkan memang telah terjadi "krisis Kewirausahaan" di tengah-tengan masyarakat kita. Yusuf Kalla berkata dalam silaturahmi Saudagar Minang "Sekarang di masyarakat kita, orang-orang tua lebih senang anaknya menjadi PNS, memenag menjadi PNS baik, tapi jauh lebih baik mereka untuk jadi Pedagang, entreprenuer-entreprenur muda ini sangat dibutuhkan di negeri ini. Dalam acara kick andy beberapa minggu lalu, "Pak Ci" - Ciputra -Red berkata " Kita kekurangan banyak sekali entreprenuer, kita kekurangan 100.000 entreprenuer untuk memajukan bangsa ini. Ketika ditanya "Kalu nanti semua orang menjadi pedagang-pengusaha-saudagar, nanti yang lain jadi apa". Dengan sangat lugas pak Ci menjawab "Kita dulu disekolah diajarkan menyanyi, tapi tidak semua orang jadi penyanyi kan ?"
Pak Roni pun dalam postingannya "Para calon mertua di kampung saya agak alergi dengan istilah ini ketimbang calon menantu yang bekerja sebagai PNS atau di bank."
Bahkan si Bapak yang jelas-jelas sudah menjadi pedagang-pengusaha-saudagar pun tidak menginginkan anaknya meneruskan usaha beliau, beliau ingin anaknya bekerja mengembagkan ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah. Tidak salah sih, cuma cara orang-orang tua memandang profesi pedagang-pengusaha-saudagar itu yang agak "miris" kita melihatnya.
Bagaimana dengan anda, orang tua, calon oarang tua memandang posisi pedagang-pengusaha-saudagar?, kalo para TDAers saya percaya sudah mempunyai paradigma yang baru, ayo kita sebarakan virus entreprenership dengan meng"attract" mereka dengan kerja nyata.
Selamat Berkarya..
Salam FUNNNtastic
Agus Supriyanto
Owner Fadma Muslim Fashion
Keranjang Jebol
1 minggu yang lalu

Memang bener pak, berarti cocok dengan visi-mis TDA yang akan melahirkan 10.000 entrepreneur
Sukses
Itulah kenyataannya... pemikiran sebagai pekerja terlihat lebih berstatus ketimbang pedangang. Perlu waktu untuk menggiring cara pandang seperti ini dan jelas perlu action.